Pendapat orang pandai meng-ibarat kan, manusia itu adalah Hewan yang (bisa) berpikir (al insanu hayawanun natiqun)
Al-Qur’an menyatakan bahwa mereka yang mendustakan ayat ayat Allah dikatakan seperti (hewan) Anjing.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya:
“Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 176)
Dan didalam al Qur’an juga dikatakan bahwa orang-orang yang tidak mau menggunakan hati, penglihatan dan pendengaran dengan benar, yaitu di gunakan agar mengerti dan memahami ayat ayat Allah, mereka seperti binatang ternak.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya;
“Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 179)
Manusia di ibaratkan seperti binatang ternak adalah manusia yang hidup nya Hedonis. Hidup yang semata-mata menikmati nafsu sahwatnya. Dan dikatakan lebih sesat dari binatang ternak, karena binatang ternak itu memang harus begitu sebagai rizqi bagi manusia.
Manusia harus punya adab menghormati tapi tidak tidak seperti Anjing karena bila manusia seperti Anjing itu adalah bermental Antek. Itu sikap yang rendah. Manusia harus mengambil ilmu hikmah dari Anjing seperti disampaikan syekh ‘Athoillah di kitab al Hikam tapi jelas harus dengan logika (natiq) dan Hati (qolb- fuadz) sehingga sikap loyalnya tidak sampai menjadi Antek.
Manusia beriman yang mendapat hidayah dari Allah, adalah yang dengan potensi dirinya mampu melakukan pilihan yang tepat, seperti yang di tegas kan Allah dalam al Qur’an:
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya;
“(yaitu) mereka (orang-orang) yang (mau) mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar 39: Ayat 18)
Demikian sekilas catatan, semoga bermanfaat.
Penulis: Anies Ridwan al Badrie-26.
Baca Artikel lainnya,
Leave a Comment