Seri Sekolah Partisipatif #56
Oleh: Mustika Aji
Kesalahan yang paling sering dilakukan sekolah saat mengajak mitra adalah satu: datang langsung membawa proposal. Belum saling mengenal, belum memahami kepentingan bersama, tetapi sudah meminta tanda tangan dan stempel.
Wajar jika akhirnya ditolak. Kemitraan yang sehat selalu dimulai dari relasi, bukan dari dokumen. Dalam teori Social Capital (Robert Putnam), kepercayaan dibangun melalui interaksi yang berulang, bukan melalui MoU. Tanpa trust, kemitraan hanya akan menjadi formalitas.
1. Hadir di Ruang Mereka
Datanglah ke desa, ke masjid, ke sanggar, atau ke UMKM, bukan memanggil mereka ke sekolah. Ini bukan semata soal strategi, tetapi soal adab.
2. Dengarkan Dulu, Jangan Menjual Program
Tanyakan apa yang sedang mereka hadapi, apa harapan mereka terhadap generasi muda, dan di titik mana kita bisa tumbuh bersama. Sekolah bukan penyelamat. Sekolah adalah rekan.
3. Mulai dari Kegiatan Kecil dan Nyata
Kajian remaja, kelas tematik bersama petani, kerja bakti, literasi kampung, atau mentoring sebaya. Kecil, tetapi konsisten.
4. Bagi Peran dengan Jelas
Siapa melakukan apa, kapan, dan sejauh mana. Banyak kemitraan gagal bukan karena niat yang buruk, melainkan karena pembagian peran yang kabur.
5. Akui Kontribusi, Jangan Mengambil Panggung
Biarkan mitra tampil. Sekolah cukup memastikan proses belajar murid berjalan dengan baik. Paulo Freire mengingatkan:
“No one educates anyone else; people educate each other.”
Pendidikan adalah proses saling mendidik, bukan satu arah.
Sekolah perlu bersikap ekstra beradab. Masjid bukan ruang proyek, melainkan ruang aman bagi nilai dan kepercayaan. Banyak sekolah datang dengan kalimat sopan, “minta waktu sebentar,” tetapi setelah kegiatan pertama selesai, menghilang. Tidak ada kabar, tidak ada tindak lanjut, dan tidak ada kehadiran ulang.
Bagi takmir dan remaja masjid, hal itu bukan sekadar lupa. Itu dibaca sebagai tidak amanah. Takmir terbiasa menjaga kepercayaan jamaah. Remaja masjid bekerja secara sukarela, merawat nilai, bukan mengejar sertifikat. Sekali sekolah datang hanya untuk kepentingannya sendiri, nama baik sekolah dapat rusak tanpa perlu pengumuman.
Kepercayaan di lingkungan masjid tidak dibangun melalui MoU, melainkan melalui kehadiran yang berulang: datang kembali walau tanpa acara, menyapa walau tanpa agenda, dan hadir walau tanpa kepentingan langsung.
Sekolah partisipatif tidak menjadikan masjid sebagai panggung, melainkan sebagai rumah nilai. Sebab di masjid, ketika kepercayaan terputus, yang rusak bukan hanya program, tetapi nama baik sekolah itu sendiri.
——————————————————————————————————————————————————————————–
Penulis: Mustika Aji, S.Pd.
(Aktivis dan Tokoh Masyarakat Kebumen)
Baca Artikel lainnya,
Leave a Comment