oleh : Mustika Aji
Awal tahun selalu datang bersama janji: janji perubahan, janji kemajuan, dan janji kesejahteraan. Namun sejarah memberi pelajaran tegas bahwa peradaban tidak lahir dari janji, melainkan dari kerja panjang yang berakar pada nilai.
Suatu ketika, tepatnya pada tahun 2012, seseorang bertanya kepada saya, “Mengapa LSU Bina Insani memilih bergerak di bidang dakwah, pendidikan, pemberdayaan, dan advokasi?”
Pertanyaannya sederhana. Jawabannya sejak awal juga sederhana, dan hingga hari ini tidak berubah.
Karena peradaban tidak dibangun melalui jalan pintas.
Kami memulai dari dakwah dan pendidikan. Keduanya tidak kami tempatkan sekadar sebagai aktivitas, melainkan sebagai wahana pewarisan nilai dan kaderisasi peradaban. Dakwah menanamkan arah dan keyakinan; pendidikan mengasah akal dan adab. Di sanalah nilai diturunkan, kesadaran dibentuk, dan kader disiapkan. Tanpa dakwah dan pendidikan, perjuangan tidak memiliki penerus, dan nilai akan terputus di tengah jalan.
Dakwah yang kami yakini bukanlah dakwah mimbar yang selesai dengan tepuk tangan. Ia adalah kerja nilai: tauhid, keadilan, amanah, dan keberpihakan kepada kaum lemah. Tanpa dakwah, pembangunan bergerak tanpa kompas moral.
Pendidikan pun kami maknai lebih dari sekadar sekolah dan ijazah. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang berakal sehat, beradab, dan berani berpihak pada kebenaran. Tanpa pendidikan, dakwah mudah berubah menjadi hafalan. Sebaliknya, tanpa dakwah, pendidikan kehilangan ruh dan arah.
Namun kader yang sadar nilai dan terdidik tetap dapat lumpuh jika hidup dalam ketergantungan. Karena itu, pemberdayaan masyarakat menjadi sebuah keharusan. Pemberdayaan bukan bantuan sesaat dan bukan pula proyek musiman. Ia adalah ikhtiar membangun daya, agar masyarakat mampu mengelola sumber daya, menentukan pilihan hidup, dan berdiri dengan martabatnya sendiri. Pendidikan tanpa pemberdayaan hanya melahirkan kader pintar yang mudah dikalahkan oleh sistem.
Dan ketika nilai dilanggar, akal disingkirkan, serta daya dirampas, advokasi tidak dapat ditawar. Kebenaran tidak selalu menang dengan sendirinya. Kaum lemah hampir selalu menjadi pihak yang lebih dulu kalah. Advokasi adalah kerja menjaga agar nilai yang diwariskan, akal yang dibangun, dan daya yang diperjuangkan tidak dihancurkan oleh ketimpangan kebijakan maupun praktik kekuasaan.
Keempat bidang tersebut adalah satu kesatuan jalan. Memisahkannya berarti membangun peradaban secara setengah-setengah, rapuh dan mudah runtuh.
Dakwah memberi arah.
Pendidikan mewariskan nilai dan menyiapkan kader. Pemberdayaan menguatkan pijakan. Advokasi menjaga keadilan tetap tegak.
Sejak 2012 hingga hari ini, jawabannya tetap sama. LSU Bina Insani memilih jalan panjang ini bukan karena mudah, melainkan karena tidak ada cara lain untuk membangun peradaban yang adil dan bermartabat berdasarkan nilai dan syariat Islam, selain menempuhnya secara utuh, konsisten, dan jujur.
——————————————————————————————————————————————————————————–
Penulis: Mustika Aji, S.Pd.
(Aktivis dan Tokoh Masyarakat Kebumen)
Baca Artikel lainnya,
Leave a Comment