School Info
Wednesday, 04 Feb 2026
  • 🕌 Kami segenap Tim Departemen Media & Publikasi Yayasan Bina Insani Kebumen mengucapkan: “Selamat Memperingati Isra’ Mi‘raj Nabi Muhammad ﷺ Tahun 1447 Hijriah” ✨ Semoga peristiwa agung Isra’ Mi‘raj ini semakin meneguhkan keimanan dan ketakwaan kita, memperkuat komitmen dalam menegakkan salat, serta menginspirasi untuk senantiasa berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 🌸
  • 🕌 Kami segenap Tim Departemen Media & Publikasi Yayasan Bina Insani Kebumen mengucapkan: “Selamat Memperingati Isra’ Mi‘raj Nabi Muhammad ﷺ Tahun 1447 Hijriah” ✨ Semoga peristiwa agung Isra’ Mi‘raj ini semakin meneguhkan keimanan dan ketakwaan kita, memperkuat komitmen dalam menegakkan salat, serta menginspirasi untuk senantiasa berakhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 🌸
4 January 2026

TKA SMA Jeblok: Data Bicara, Sistem Terbuka, dan Jawaban yang Tidak Instan

Sun, 4 January 2026 Read 60x Artikel
Share this post

Oleh : Mustika Aji

Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMA berbicara keras.
Rata-rata nasional Matematika berada di kisaran 36 dari 100, Bahasa Inggris sekitar 25-27, sementara Bahasa Indonesia berkisar 57. Angka-angka ini bukan sekadar rendah; ini adalah alarm nasional. Dan perlu ditegaskan sejak awal: ini bukan gosip, melainkan data resmi.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah nilai tersebut benar-benar jeblok, melainkan mengapa kita sok terkejut.

Yang berubah dari TKA bukan hanya namanya, tetapi juga alat ukurnya. Dari tes hafalan menuju tes nalar. Dari soal pola menuju soal berbasis konteks dan analisis. Dari sekadar benar-salah menuju pengukuran proses berpikir melalui pendekatan Item Response Theory (IRT). Masalahnya sederhana, tetapi fatal: cara mengajar di sekolah tidak ikut berubah. Termometernya diganti, dapurnya tetap sama. Maka wajar jika hasilnya anjlok.

Kesalahan paling tidak adil adalah ketika kegagalan ini dibebankan kepada siswa, seolah-olah satu generasi tiba-tiba kehilangan kecerdasan. Padahal faktanya lebih jujur: mereka tidak pernah dilatih untuk jenis kemampuan yang kini diuji. Bertahun-tahun siswa dibiasakan patuh, cepat, dan rapi, bukan kritis, reflektif, dan analitis. Mereka diajari menjawab, bukan mempertanyakan. Disiapkan untuk lulus, bukan untuk paham.

Di titik inilah pertanyaan penting muncul: apakah sekolah partisipatif yang selama ini kita diskusikan dan tuliskan panjang lebar mampu menjawab masalah ini?

Jawaban jujurnya: ya, secara konseptual pendekatan ini tepat sasaran. Bahkan, jika dinilai secara objektif, sekolah partisipatif adalah pendekatan yang paling selaras dengan roh TKA.

Apa yang diuji TKA, kemampuan membaca konteks, menalar masalah, serta mengaitkan konsep dengan realitas, adalah persis kemampuan yang dibangun dalam pembelajaran partisipatif. Guru berperan sebagai fasilitator, bukan pabrik jawaban. Kelas menjadi ruang dialog, bukan ruang sunyi. Soal berfungsi sebagai alat berpikir, bukan alat menakut-nakuti. Penilaian tidak mematikan rasa percaya diri, dan pembelajaran berakar pada kehidupan nyata siswa serta lingkungannya.

Namun, kejujuran tidak boleh berhenti di situ.
Sekolah partisipatif bukan obat instan.

Pendekatan ini gagal total jika hanya menjadi slogan. Ia tidak bekerja jika partisipasi sekadar formalitas. Ia runtuh jika guru tidak “naik kelas” dalam cara berpikir dan bertanya.

Justru sebaliknya, pendekatan ini lebih menuntut: menuntut guru berpikir lebih keras, merancang pertanyaan lebih dalam, dan menerima keberagaman jawaban. Ia tidak ramah bagi sekolah yang hanya mengejar hasil cepat atau citra manis. Namun, di situlah kekuatannya. Ia membangun nalar dari hulu, bukan menambal skor di hilir.

Maka, TKA sejatinya tidak sedang mencari kambing hitam. Ia sedang menyampaikan pesan pahit: cara lama sudah tidak memadai.

TKA yang jeblok bukan kegagalan siswa.
Bukan pula kesalahan satu kebijakan.
Ia adalah cermin jujur sistem pendidikan kita sendiri.

Dan sekolah partisipatif bukan respons dadakan terhadap TKA, melainkan kritik mendasar terhadap sekolah yang terlalu lama puas mengajar, tetapi lupa mendidik.

Jika TKA dibaca dengan kepala dingin, pesannya sederhana:
pendidikan yang tidak melatih nalar akan selalu kaget ketika nalar diuji.

——————————————————————————————————————————————————————————–

✍️ Penulis: Mustika Aji, S.Pd.
(Aktivis dan Tokoh Masyarakat Kebumen)

Baca Artikel lainnya,


Share this post
This article have

0 Comment

Leave a Comment