KARANGANYAR, Kebumen | YBINews — Ketua Yayasan Bina Insani Kebumen, Dra. Sri Winarti, M.H., menegaskan bahwa hakikat anak sholeh dan sholehah merupakan investasi terbaik bagi masa depan umat.
Penegasan tersebut disampaikannya saat mengisi materi pembuka dalam rangkaian kegiatan Dauroh Remaja Islam Yayasan Bina Insani Kebumen, yang digelar pada Kamis (1/1/2026) di SDIT Logaritma Karanganyar.
Kegiatan tersebut diikuti oleh puluhan remaja binaan Yayasan Bina Insani Kebumen sebagai bagian dari upaya pembinaan karakter, keimanan, dan akhlak generasi muda.
Melalui pemaparannya, Ust. Sri Winarti menekankan bahwa anak sholeh dan sholehah merupakan harapan seluruh orang tua muslim sekaligus investasi tertinggi dalam pendidikan Islam.
“Keberhasilan pendidikan sejati tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi dari terbentuknya keimanan, akhlak, dan karakter yang kuat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan makna hakikat sebagai inti atau esensi kebenaran yang sering kali tersembunyi di balik tampilan luar.
“Hakikat anak sholeh dan sholehah terletak pada kesungguhan dalam belajar dan mengamalkan nilai-nilai Islam secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Ust. Sri Winarti juga menguraikan bahwa salah satu ciri utama anak sholeh dan sholehah adalah mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apa pun.
“Cinta tersebut tercermin dalam ketaatan, pengorbanan, serta keberpihakan pada nilai-nilai kebaikan dalam setiap sikap dan tindakan,” ujarnya.
Seiring dengan itu, ia menegaskan pentingnya ketaatan dalam beribadah, seperti menjaga shalat, menjalankan puasa, serta membiasakan membaca dan mengamalkan Al-Qur’an.
“Ibadah menjadi sarana utama untuk membangun kedekatan spiritual sekaligus membentuk kedisiplinan diri,” katanya.
Tak kalah penting, Ust. Sri Winarti menyoroti sikap berbakti kepada orang tua sebagai pilar utama pembentukan karakter.
“Menghormati, menyayangi, dan mematuhi orang tua selama tidak bertentangan dengan nilai kebaikan merupakan wujud nyata akhlak mulia dalam kehidupan keluarga,” ujarnya.
![]()
Selain itu, ia menekankan bahwa akhlak mulia harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. “Kejujuran, amanah, rendah hati, santun, gemar berbagi, suka menolong, serta kemampuan memaafkan dan meminta maaf menjadi fondasi hubungan sosial yang sehat,” katanya.
Sejalan dengan itu, Ust. Sri Winarti juga mengajak peserta untuk meneladani Rasulullah SAW dalam berbagai peran kehidupan.
“Rasulullah adalah teladan terbaik dalam semua aspek kehidupan, dan nilai-nilai keteladanan itu perlu terus dihidupkan dalam pembinaan generasi muda,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa doa anak sholeh merupakan salah satu amal yang pahalanya terus mengalir bagi orang tua.
“Mendoakan orang tua bukan hanya bentuk bakti, tetapi juga investasi spiritual yang bernilai jangka panjang,” katanya.

Tak berhenti di situ, Ust. Sri Winarti menekankan pentingnya kepedulian terhadap keluarga dan sesama.
“Kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui kontribusi positif, pemberian solusi, serta sikap saling melindungi dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Pada sesi tanya jawab, Qonita Rahma Aulia asal Kembaran, Kebumen, menanyakan tentang kemungkinan adanya dosa jariyah dan dampaknya setelah seseorang meninggal dunia.
Menanggapi hal tersebut, Ust. Sri Winarti mengingatkan pentingnya kehati-hatian di era digital. “Setiap perbuatan, termasuk aktivitas di media sosial, bisa meninggalkan dampak jangka panjang. Karena itu, generasi muda harus bijak dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi,” ujarnya.

Sementara itu, Hania Maria menanyakan bagaimana cara agar shalat tidak sekadar menjadi rutinitas, tapi penuh makna. Menjawab pertanyaan tersebut, Ust. Sri Winarti menekankan pentingnya pemahaman makna ibadah.
“Jika sejak kecil ditanamkan bahwa shalat adalah bentuk cinta dan rasa syukur kepada Allah, serta dipahami makna bacaannya, maka shalat tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan kebutuhan,” katanya.
Sebagai penutup, Ust. Sri Winarti menegaskan kembali makna anak sholeh dan sholehah. “Anak sholeh dan sholehah adalah mereka yang mau belajar, mengamalkan, dan memberi kontribusi positif bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.
“Kebersamaan dan semangat berjamaah menjadi kunci dalam membangun generasi yang kuat dan berakhlak,” pungkasnya. (sfd/ny/qwn)
Read More News :
Leave a Comment